27 March 2025 17:30
Opini dan Kolom Menulis

BENARKAH PRODUKSI BERAS HINGGA APRIL 2025 MENCAPAI 13,5 JUTA TON?

BENARKAH PRODUKSI BERAS HINGGA APRIL 2025 MENCAPAI 13,5 JUTA TON?

OLEH : ENTANG SASTRAATMADJA

Di tengah optimisme Pemerintahan Presiden Prabowo dan Kabinet Merah Putihnya untuk menyetop impor beras mulai tahun 2025 ini, ternyata di sisi lain ada juga pengamat perberasan, yang meragukan dan merisaukan semangat itu akan terwujud, jika dan hanya jika, iklim dan cuaca tidak berpihak ke sektor pertanian.

Pengalaman sergapan El Nino beberapa tahun lalu, memberi bukto betapa tidak berdayanya Pemerintah menjawab dengan baik serangan El Nino. Akibatnya, produksi beras secara nasional anjlok, harga beras di pasar melesat tinggi dan impor beras dilakukan dengan angka cukup tinggi dan fantastis.

Menyikapi hal demikian, menjadi sangat masuk akal, bila Pemerintah tampak serius mencari solusi cerdas, supaya pengalaman pahit adanya sergapan El Nino dapat diantisipasi sedini mungk8n, sehingga tidak terkesan kebakatan jenggot. Salah satunya adalah apa yang digarap oleh CNBS itu sendiri.

CNBC Indonesia menggelar Food Summit 2025 dengan tema “Pangan Berdaulat, Indonesia Semakin Kuat”, untuk mengupas strategi Indonesia menuju target swasembada pangan sekaligus mendorong kesadaran publik, dan merumuskan solusi nyata untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri pangan dan berdaya saing global.

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan dalam Food Summit 2025 mengungkapkan setidaknya 2 strategi menuju target swasembada pangan melalui ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Langkah ini diharapkan dapat mengatasi berbagai persoalan pangan termasuk persoalan harga gabah dan beras serta jagung.

Zulhas menyebutkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produksi Beras Tembus 13,5 Juta Ton per April 2025 dan merupakan pencapaian tertinggi dalam 7 tahun terakhir, sehingga jika Bulog mampu menyerap semuanya produksi petani maka hingga akhir tahu 2025 RI tak perlu impor beras.

Menghadapi panen raya padi kali ini, Pemerintah sebagai regulator pangan telah menugaskan Perum Bulog untuk dapat menyerap gabah petani sebesar-besarnya. Secara lebih terukur Pemerintah “menuntut” Perum Bulog selaku operator pangan untuk dapat mewujudkan penyerapan gabah sejumlah 3 juta ton setara beras.

Keberanian Pemerintah untuk menghentikan impor beras mulai tahun 2025, tentu telah dilandasi oleh pertimbangan cukup matang. Pemerintah pasti tidak akan pernah main-main dengan apa yang telah diputuskannya. Apalagi menyangkut beras, yang selama ini disebit sebagai komoditas politis dan strategus.

Kata kunci untuk mencapai cita-cita diatas, sebetulnya tetap terletak dan ditentukan oleh kemampun bangsa kita dalam menggenjot produksi beras dalam negeri setinggi-tingginya menuju swasembada. Tanpa produksi beras yang meningkat, jangan pernah bermimpi Indonesia akan mampu menghentikan impor beras.

Sejak Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden NKRI, semangat mencapai swasembada pangan telah membahana menjadi salah satu program prioritas yang wajib ditempuh dalam kepemimpinan lima tahun ke depan. Presiden Prabowo malah percaya, swasembada pangan dapat dicapai dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

Percaya diri sudah semestinya mengemuka menjadi ciri bangsa pejuang. Tapi, sikap realistik pun tentu sangat diperlukan. Itu sebabnya, dalam mengaitkan pencapaian swasembada pangan, utamanya beras dengan penghentian impor beras, rupanya sangat membutuhkan pengkajian mendalam dan mendasar.

Ukurannya tentu tidak hanya mengandalkan pada prediksi angka yang diolah oleh BPS, namun yang leboh penting lagi adalah bagaimana dengan kondisi obyektif di lapangan. Terlebih bila sudah berhubungan dengan masalah yang berada diluar kemampuan manusia. Contohnya soal El Nino dan La Nina.

Pertanyaan kritisnya, apakah produksi beras secara nasional tahun 2025 sebesar 13,5 juta ton itu akan benar-benar terwujud atau hanya sebatas kemauan politik Pemerintah semata ? Jawaban ini, jelas sangat dibituhkan, agar para pengambil kebijakan tidak terjebak dalam hasrat sekedar mengecat langit.

Penting diingatkan, produksi beras nasional tahun lalu tercatat sebesar 30,41 juta ton. Angka ini, jauh lebih rendah ketimbang produksi beras tahun 2023 yang mencapai 31,10 juta ton. Prediksi BPS, untuk tahun ini produksi secara nasional bisa mencapai angka diatas 33 juta ton. Untuk meraihnya, tentu perlu didukung oleh berbagai kebijakan yang menopangnya.

Harapan ini akan terwujud, jika target Pemerintah hingga April 2025, produksi beras dapat mencapai 13,5 juta ton. Namun kalau gagal, boleh jadi Pemeribtah akan berpikir keras untuk mencari jalan keluarnya, setelah diputuskan untuk tahun 2025 ini kita tidak perlu impor beras. Mari kita ikuti perkembangannya. (PENULIS, LETUA DEWAN PAKAR DPD HKTI JAWA BARAT).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *